Senin, 09 Januari 2012

ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI DAN SENI DALAM ISLAM


ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI
DAN SENI DALAM ISLAM

       I.            Perbedaan antara Ilmu dan Pengetahuan
Ada perbedaan prinsip antara ilmu dengan pengetahuan. Ilmu merupakan kumpulan dari berbagai pengetahuan, dan kumpulan pengetahuan dapat dikatakan ilmu setelah memenuhi syarat-syarat objek material dan objek formal. 
Ilmu bersifat sistematis, objektif dan diperoleh dengan metode tertentu seperti observasi, eksperimen, dan klasifikasi. Analisisnya bersifat objektif dengan menyampingkan unsur pribadi, mengedepankan pemikiran logika, netral (tidak dipengaruhi oleh kedirian atau subjektif). 
Pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai matafisik maupun fisik, pengetahuan merupakan  informasi yang berupa common sense,  tanpa memiliki metode, dan mekanisme tertentu. Pengetahuan berakar pada adat dan tradisi yang menjadi kebiasaan dan pengulangan-pengulangan. Dalam hal ini landasan pengetahuan kurang kuat cenderung kabur dan samar-samar. Pengetahuan tidak teruji karena kesimpulan ditarik berdasarkan asumsi yang tidak teruji lebih dahulu.  Pencarian pengetahuan lebih cendrung trial and error dan berdasarkan pengalaman belaka.

    II.            Fungsi Kemajuan Teknologi
Fungsi Teknologi. Teknologi dibuat dan dikembangkan oleh manusia untuk mempermudah setiap pekerjaan dan urusan. Banyak teknologi telah dikembangkan dan membawa manfaat bagi kehidupan. Salah satunya adalah teknologi komputer. Berikut beberapa Manfaat Kemajuan Teknologi Komputer:
1.   Bidang Pendidikan
Mengakses Informasi Pendidikan lewat Internet.
1.      Bidang Kesehatan
2.      Mempermudah Dokter dan Perawat dalam memonitor kesehatan pasien monitor detak jantung pasien lewat monitor komputer, aliran darah , memeriksa organ dalam pasien dengan sinar X.
3.     Bidang Transportasi
4.   Dengan komputer semua jadwal dan jalur penerbangan yang transit dibandara bisa di program dan dijadwalkan dengan komputer.

 III.       Perbedaan  Iman , Islam , Ihsan dan Kemajuan ilmu Pengetahuan       
    Pengertian Islam
Kata Islam berasal dari bahasa Arab yang mempunyai bermacam-macam arti diantaranya:
1.  Salam artinya Selamat, aman sentosa, sejahtera. Yakni aturan hidup yang dapat menyelamatkan  manusia didunia dan akhirat.
2.   Aslama artinya menyerah atau masuk Islam. Yakni mengajarkan penyerahan diri kepada Alloh.
3.   Silmun artinya keselamatan atau perdamaian.
4.   Salamun artinya tangga atau kendaraan
Menurut istilah Islam adalah agama Allah S.W.T. yang diwahyukan kepada rasul-rasul-Nya sejak nabi Adam AS hingga nabi terakhir Muhammad S.A.W. Agama islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia baik keyakinan Ibadah, social, hukum politik, ekonomi, dan lain sebagainya yang menjadi pedoman hidup bagi seluruh umat manusia agar tercapai kshidupan yang  diridhoi Alloh SWT dan kebahagiaan hidup didunia dan akhirat.

Pengertian Dasar Iman
            Kita telah mengetahui pengertian iman secara umum, yaitu sikap percaya, dalam hal ini khususnya  percaya  pada  masing-masing rukun  iman  yang  enam (menurut akidah Sunni).
Namun, dalam dimensinya yang lebih mendalam, iman tidak  cukup hanya dengan sikap batin yang percaya atau mempercayai sesuatu belaka,    tapi    menuntut    perwujudan     lahiriah atau eksternalisasinya  dalam  tindakan-tindakan.
Tiadanya  iman  dari orang yang sedang melakukan kejahatan itu ialah   karena   iman   itu   terangkat    dari   jiwanya   dan "melayang-layang di atas kepalanya seperti bayangan."
Berdasarkan itu, maka sesunggahnya makna  iman  dapat  berarti sejajar  dengan  kebaikan  atau  perbuatan baik.
Karena itu perkataan iman yang digunakan dalam Kitab Suci dan  sunnah  Nabi  sering  memiliki  makna  yang  sama   dengan perkataan  kebajikan  (al-birr), taqwa, dan kepatuhan (al-din) pada  Tuhan  (al-din)  (Lihat  Ibn  Taimiyah,  al-Iman,    hal. 162-153).

Pengertian Dasar Ihsan
 Ihsan berasal dari kata Ahsana-Yuhsinu-Ihsaanan yang artinya”berbuat baik”. Sedangkan pengertian Ihsan menurut istilah adalah menyembah Alloh seakan-akan melihat-Nya jika tidak bias demikian maka sesungguhnya Alloh maha Melihat. Maka Ihsan adalah ajaran tentang penghayatan diri sebagai yang sedang menghadap Alloh dan berada di kehadiratan-Nya ketika beribadah. Ihsan adalah pendidikan atu latihan untuk mencapai dalam aarti sesungguhnya. Karena seperti yang dikatakan Ibnu Taimiyah diaatas, Ihsan menjadi puncak tertinggi keagamaan manusia.
Ihsan dianalogkan sebagai atap bangunan Islam (rukun Iman adalah pondasi dan rujun Islam adalah bangunanya). Ihsan berfungsi sebagai pelindung bagi bangunan keIslaman seseorang. Jika seseorang berbuat Ihsan, maka amal-amal islam lainnya akan terpelihara dan tahan lama sesuai dengan fungsinya sebagai atap bangunan.
Ihsan mempunyai landasan yaitu:
      1.      Landasan Qauli
“sesungguhnya Alloh telah mewajibkan untuk berbuat Ihsan terhadap segala sesuatu” (HR. Muslim). Tuntutan untuk berbuat Ihsan dalam Islam yaitu secara maksimal dan optimal.
      2.      Landasan Kauny
Dengan melihat fenomena dalam kehidupan ini, secara sunnatulloh setiap orang suka akan berbuat yang Ihsan.
Alasan berbuat Ihsan:
            a.       Adanya monitoring Allah (muraqabatulloh)
            b.      Adanya kebaikan Allah (Ihsanulloh)

Pandangan Islam tentang Kemajuan Teknologi
Islam tidak pernah mengekang umatnya untuk maju dan modern. Justru Islam sangat mendukung umatnya untuk melakukan research dan bereksperimen dalam hal apapun, termasuk sains dan teknologi. Bagi Islam sains dan teknologi adalah termasuk ayat-ayat Allah yang perlu digali dan dicari keberadaannya. Ayat-ayat Allah yang tersebar di alam semesta ini, dianugerahkan kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi untuk diolah dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

IV.       Keutamaan orang Berilmu dan Beriman
Keutamaan orang-orang yang berilmu dan beriman sekaligus, diungkapkan Allah dalam ayat-ayat berikut:
“Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?’ Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar [39] : 9).
Rasulullah SAW pun memerintahkan para orang tua agar mendidik anak-anaknya dengan sebaik mungkin. “Didiklah anak-anakmu, karena mereka itu diciptakan buat menghadapi zaman yang sama sekali lain dari zamanmu kini.” (Al-Hadits Nabi SAW). “Menuntut ilmu itu diwajibkan bagi setiap Muslimin, Sesungguhnya Allah mencintai para penuntut ilmu.” (Al-Hadits Nabi SAW).
Sebagai mukmin, kita harus menguasai Iptek. Ada 3 alasan mengapa kita harus menguasai Iptek:
1. Ilmu pengetahuan yg berasal dari dunia Islam sudah diboyong oleh negara-negara barat. Ini merupakan fakta yang tidak dapat dipungkiri.
2. Negara-negara barat mencegah berkembangnya Iptek di negara Islam. Ini juga merupakan fakta yang tidak dapat dipungkiri.
3. Adanya upaya untuk melemahkan umat Islam dar memikirkan kemajuan Ipteknya, misalnya, umat Islam disodori persoalan-persoalan klasik, agar umat Islam sibuk sendiri dan akhirnya bertengkar sendiri( adu domba).
Jadi agama dan ilmu pengetahuan, dalam Islam tidak terlepas satu sama lain. Agama dan ilmu pengetahuan adalah dua sisi koin dari satu mata uang koin yang sama. Keduanya saling membutuhkan, saling menjelaskan dan saling memperkuat secara sinergis, holistik dan integratif. memanfaatkan perkembangan IPTEK untuk meningkatkan martabat manusia dan meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT.

V.        Tanggung Jawab Ilmuwan Terhadap  Alam dan Lingkungan
Ilmuwan merupakan sosok manusia yang diberikan kelebihan oleh Tuhan dalam menguasai sebuah ilmu pengetahuan. Dari kelebihannya ini maka Tuhan mengangkat harkat dan martabat ilmuan tersebut di tengah-tengah masyarakat, bangsa dan Negara sehingga mereka disanjung dan dihormati serta menjadi sumber solusi dari situasi-dan kondisi lingkungan hidup manusia.
Manusia diberi akal pikiran dan nafsu, dimana tidak diberikan pada makhluk lainnya. Dengan bekal akal pikiran itulah Allah memberikan mandat sebagai khalifah di bumi agar mengurusi (mempergunakan dan memeliharanya) alam mini sebaik baiknya sebagai mana temaktub dalam Al-Quran pada (Qs: 2:30; Qs:7:129; Qs:27:62; Qs:35:39; Qs:38:26). Kewenangan manusia untuk mempergunakan alam bukanlah hak mutlaknya tapi merupakan hak yang telah direkomendasikan oleh Allah SWT. Dan suatu saat akan diminta pertanggungjawaban oleh pemilik sejatinya. Oleh karenanya manusia berkewajiban memelihara keseimbangan dan keselarasan alam agar tidak rusak seperti pertama kali Allah meminjamkan pada manusia.
Sebagai khalifah di bumi manusia sekaligus sebagai hamba Allah yang berkewajiban untuk beribadah kepada-Nya dengan menjalankan ajaran-ajaran yang telah diturunkan kepada umat manusia.Untuk dapat beribadah dengan khusu dan istiqamah (mantap dalam keimanan) manusia harus lebih mengenal dan memahami Khaliknya. Dalam rangka mengenal dan memahami Allah itulah alam semesta digunakan sebagai media untuk memngerti dan memahami rahasia Allah. Tentu bersama-sama dengan mengkaji dan memahami ayat-ayat yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Perpaduan anatara ayat kauniyah (alam semesta) dan ayat Al-qur’an akan memmberikan ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Jadi dalam pandangan Islam alam semesta mempunyai dua fungsi; pertama, untuk memenuhi kebutuhan manusia agar bisa beribadah kepada Allah. Kedua, sebagai media untuk memahami kekuasaan, kebesaran, dan keluasan dzat Allah.

VI.       Pendapat Iman Al –Gazali Tentang Keutamaan Orang Berilmu
Imam Al-Ghazali mengatakan : "Allah mengangkat derajat orang-orang dengan ilmu, lalu menjadikan mereka kebaikan sebagai pemimpin dan pepberi petunjuk yang diikuti, petuntuk dalam kebaikan, jejek mereka mereka diikuti dan perbuatan mereka diamalkan.
Para malaikat ingin menghiasi mereka dan mengusap mereka dengan sayap-sayapnya. Setiap yang basah dan yang kering bertasbih bagi mereka dan memohon ampun bagi mereka, bahkan ikan-ikan dilaut dan binatang-binatang, hewan-hewan buas dan ternak-ternak didaratan serta bintang-bintang dilangit. Karena Ilmu menghidupkan hati dan menerangi pandangan yang gelap serta menguatkan yang lemah. Dengan Ilmu hamba mencapai kedudukan orang-orang yang salih.

VII.     Tugas Manusia Sebagai Abdun dan Khalifah
Kekhalifahan Islam
Dari kata خَلَفَ – يَخْلُفُ – خِلاَ فَةً   artinya pengganti atau wakil.
Manusia adalah hamba Allah (‘Abdun) juga sebagai Khalifah Fil Ardhi. Sebagai ‘abdun dari kata عَبَدَ – يَعْبُدُ – عِبَادَةً berkewajiban menghambakan diri hanya kepada Allah semata (‘Abdullah) membuktikan ketundukan, kepatuhan dan penyerahan diri hanya kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan membersihkan diri dari segala bentuk kemusyrikan.
Fungsi utama manusia :
- Abdun : ketaatan, ketundukan dan kepatuhan kepada kebenaran dan keadilan
- Khalifah : tanggungjawab terhadap diri sendiri dan alam lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam
Allah memberikan petunjuk berupa agama sebagai alat bagi manusia untuk mengarahkan potensinya kepada keimanan dan ketakwaan bukan pada kejahatan yang selalu didorong oleh nafsu amarah
Manusia mendapat amanah dari Allah untuk memelihara alam, agar terjaga kelestariannya dan keseimbangannya untuk kepentingan umat manusia

 VII.    PENGERTIAN SENI
v  Seni adalah hasil ungkapan akal dan budi manusia dengan segala prosesnya serta merupakan ekspresi jiwa seseorang
v  Hasil ekspresi jiwa tersebut berkembang menjadi bagian dari budaya manusia
v  Seni identik dengan keindahan, keindahan yang hakiki identik dengan kebenaran
v  Seni yang lepas dari nilai-nilai ketuhanan tidak akan abadi karena ukurannya adalah hawa nafsu bukan akal dan budi

Pandangan Islam Tentang Seni

    Sebenarnya, bagaimana pandangan Islam tentang seni? Seni merupakan ekspresi keindahan. Dan keindahan menjadi salah satu sifat yang dilekatkan Allah pada penciptaan jagat raya ini. Allah melalui kalamnya di Al-Qur’an mengajak manusia memandang seluruh jagat raya dengan segala keserasian dan keindahannya. Allah berfirman: “Maka apakah mereka tidak melihat ke langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya, dan tiada baginya sedikit pun retak-retak?” [QS 50: 6].
Allah juga mengajak manusia untuk melihat dari perspektif keindahan, bagaimana buah-buahan yang menggantung di pohon dan bagaimana pula buah-buahan itu dimatangkan. Jika manusia memerhatikan dan menikmati dengan pandangan yang indah, saat arak-arakan binatang ternak saat masuk ke kandang, juga saat dilepaskan ke tempat penggembalaan, sesungguhnya pada peristiwa itu ada unsur keindahannya.
Ajakan-ajakan kepada manusia tersebut menunjukkan, pada dasarnya manusia dianugerahi Allah potensi untuk menikmati dan mengekspresikan keindahan. Seni merupakan fitrah dan naluri alami manusia. Kemampuan ini yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain. Karena itu, mustahil bila Allah melarang manusia untuk melakukan kegiatan berkesenian.
Nabi Muhammad Saw sangat menghargai keindahan. Suatu ketika dikisahkan, Nabi menerima hadiah berupa pakaian yang bersulam benang emas, lalu beliau mengenakannya dan kemudian naik ke mimbar. Namun tanpa menyampaikan sesuatu apapun, Beliau turun kembali. Para sahabat sedemikian kagum dengan baju itu, sampai mereka memegang dan merabanya. Nabi Saw bersabda: “Apakah kalian mengagumi baju ini?” Mereka berkata, “Kami sama sekali belum pernah melihat pakaian yang lebih indah dari ini.” Nabi bersabda: “Sesungguhnya saputangan Sa’ad bin Mu’adz di surga jauh lebih indah daripada yang kalian lihat.” [M Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an].

Imam Al Ghazali dalam Ihya Ulumuddin juga menuliskan bahwa: “Siapa yang tidak berkesan hatinya di musim bunga dengan kembang-kembangnya, atau oleh alat musik dan getaran nadanya, maka fitrahnya telah mengidap penyakit parah yang sulit diobati.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar